www.pantaupublik.id – Pada tanggal 4 Oktober yang lalu, sebuah destinasi wisata baru telah resmi dibuka di Nagari Ampang Pulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Destinasi ini, yang dinamakan Bukik Ameh, diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara dengan keindahan alamnya yang eksotis.
Peresmian Bukik Ameh dilakukan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Evafauza Yuliasman, yang menyatakan pentingnya pengembangan wisata berbasis masyarakat. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk mempercantik kawasan, tetapi juga untuk memberdayakan ekonomi lokal.
Evafauza menekankan bahwa Bukik Ameh bukan sekedar tempat untuk bersantai, tetapi juga berfungsi sebagai pendorong ekonomi bagi penduduk setempat. Komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program ini menunjukkan keseriusan dalam menciptakan destinasi yang berkelanjutan.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Bukik Ameh untuk Masyarakat
Bukik Ameh diharapkan dapat menjadi motor penggerak yang akan membuka banyak peluang bagi masyarakat. Dengan pengembangan ini, diharapkan aksesibilitas dan infrastruktur di sekitar lokasi juga akan diperbaiki, sehingga meningkatkan potensi kunjungan wisata.
Wakil Rektor UNP, Prof. Dr. Refnaldi, menyebutkan bahwa keberadaan destinasi ini adalah hasil sinergi yang baik antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. Dia meminta agar semua pihak terus berkolaborasi dalam merawat dan mempromosikan kawasan ini agar semakin dikenal.
Selain memberikan aksesibilitas yang lebih baik, pemerintah dan masyarakat juga diharapkan untuk menjaga kebersihan lokasi. Hal ini penting demi kenyamanan wisatawan dan kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama Bukik Ameh.
Inovasi dalam Pengembangan Destinasi Wisata
Pengembangan Bukik Ameh membawa semangat inovasi baru dalam industri pariwisata di daerah tersebut. Melalui konsep Smart Community-Based Tourism, masyarakat setempat akan diberdayakan melalui edukasi dan pelatihan terkait pengelolaan wisata.
Program ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Dengan melibatkan penduduk lokal, diharapkan masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari pariwisata yang berkembang.
Inovasi dalam pengelolaan sumber daya alam dan promosi destinasi juga menjadi fokus utama untuk menarik minat pengunjung. Dengan pendekatan yang terencana, Bukik Ameh diharapkan dapat berfungsi sebagai surga baru bagi para pelancong.
Peran Pentahelix dalam Keberlanjutan Bukik Ameh
Pembina PPK Ormawa UPKK UNP, Siti Hajar Thaitami, menjelaskan bahwa keberhasilan Bukik Ameh adalah contoh nyata kolaborasi pentahelix. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, dan media memiliki peran penting dalam menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan.
Dengan dukungan berbagai pihak, Bukik Ameh diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Keberadaan tempat ini diharapkan tidak hanya menarik pengunjung, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal.
Diharapkan juga ada program-program lanjutan yang mendukung pengembangan lebih lanjut, baik dalam infrastruktur maupun dalam pelatihan masyarakat. Dengan cara ini, Bukik Ameh dapat menjadi ikon pariwisata yang mampu berdaya saing di tingkat regional dan nasional.


